Sistem Satu Arah di Jalan Raya Puspitek Dikeluhkan

oleh -16 Dilihat
Sistem Satu Arah di Jalan Raya Puspitek

Fokuspembaca.com, Tangerang – Pemberlakuan Sistem Satu Arah (SSA) di Jalan Raya Puspitek, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan, mendapat penolakan oleh warga setempat. Bentuk penolakan tersebut dituangkan melalui tulisan-tulisan di spanduk yang di buat warga setempat.

Dari pantauan fokuspembaca.com, terlihat jelas tulisan-tulisan di jalan raya Puspitek. Tulisan tersebut berupa penolakan Sistem Satu Arah yang kini di berlakukan oleh Dinas Perhubungan Kota Tangerang Selatan.

Diketahui, Dinas Perhubungan Kota Tangerang Selatan menerapkan kebijakan tersebut mulai Kamis (2/3/2023), jalan tersebut di berlakukan sistem satu arah mulai pukul 06.00-09.00 WIB untuk pagi hari dan 16.00-18.30 WIB untuk sore.

Sandi, salah satu warga Kecamatan Setu mengeluhkan dengan adanya kebijakan tersebut. Sebab menurut dua kebijakan tersebut merepotkan warga saat beraktivitas mengantar anak sekolah maupun lainya.

“Masyarakat sini sedikit risih ya agak ribet, kemana-mana jadi muter dulu. Kita mau kedepan aja harus muter dulu,” katanya saat dijumpai fokuspembaca.com, Senin (6/3/2023).

Kata dia, adanya kebijakan tersebut menimbulkan pro dan kontra, khususnya bagi masyarakat Setu sendiri. Ditambah banyaknya pusat pendidikan yang ada di Kecamatan Setu.

“Sebenernya pemberlakuan sistem satu arah ini banyak warga yang komplain juga, karna dari warga Setu sendiri khususnya. Banyak anak yang pada sekolah ditambah banyak pusat pendidikan juga di setu, jadi warga harus muter jauh kalau pas penutupan pagi hari,” ucapnya.

Sambung dia, dengan adanya kebijakan ini warga berencana akan mengadukan hal tersebut ke Walikota maupun Dinas Perhubungan agar pemberlakuan ini tidak lagi diteruskan.

“Sementara ini belum sih, karna kan baru 3 hari juga kebijakanya ini berlaku. Kedepanya sih akan ada penolakan tetap dari masyarakat Setu khususnya,” ujarnya.

“Kita liat dulu nanti akan ada penolakan dalam bentuk bersurat dulu atau yang lainya nih, kita kan gatau,” lanjutnya.

Masih kata dia, tulisan-tulisan yang berada di Jalan Raya Puspitek tersebut dibikin dalam bentuk aspirasi penolakan warga yang tidak setuju dengan adanya sistem satu arah tersebut.

“Ini warga yang tulis, kebetulan temen-temen juga termasuk saya. Kita si cuma pengen ngeluarin aspirasi aja bahwa ss ini terkesan di paksa banget,” tuturnya.

“Sedangkan dari jalanya sendiri itu belum pas lah untuk di berlakukan sistem satu arah ini,” jelasnya.

Dia menambahkan, jika adanya sistem penolakan berupa tulisan-tulisan ini tidak dipenuhi pihak warga akan mengambil keputusan berupa mengirimkan surat kepada pemerintah daerah setempat.

“Kita juga sudah mencoba dengan cara menyampaikan melalui pesan Instagram ke para wakil rakyat, sudah di liat juga. Tapi nanti kita akan kirim secara bersurat juga ke mereka agar pemberlakuan SSA ini tidak di berlakukan lagi,” sebutnya.

Sementara itu, dampak adanya penerapan sistem satu arah yang di berlakukan, Yuda. Salah seorang pedagang Bubur Ayam yang terkena dampak sepi pembeli saat pagi hari.

“Sebenernya saya keberatan ya, khususnya untuk pedagang seperti saya yang usahanya untuk melayani sarapan di pagi hari jadi susah, pelanggan jadi sepi,” paparnya.

“Kan yang makan ditempat saya ada juga orang-orang sekitar sini. Dengan adanga penerapan sistem satu arah ini mereka jadi tidak bisa makan disini ataupun harus muter, kalau orang jauh ya tidak bakal singgah,” sambungnya

Yuda juga mengatakan, berdasarkan penerapan sistem satu arah ini menjadi bukti bahwa pedagang juga terkena imbasnya.

“Biasanya kan tiap hari abis, waktu di terapkan sistem satu arah ini sampai siang juga belum habis malah dagangan saya, bahkan ada yang tersisa sampai terbuang juga malah,” tuntasnya. (Iksan/Mhd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.