Pemusnahan Satu Ton Makanan Sitaan Asal Thailand di Bea dan Cukai Bandara Soekarno Hatta

oleh -10 Dilihat

Fokuspembaca.com, Kota Tangerang – Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Bandara Soekarno Hatta, bekerja sama dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), melaksanakan pemusnahan makanan sitaan asal Thailand atau yang dikenal sebagai DISERT Milkbun for you sebanyak 2.564 pcs atau sekitar satu ton. Pemusnahan tersebut dilakukan sebagai hasil dari penindakan terhadap barang bawaan penumpang yang melebihi kapasitas yang diizinkan.

Kepala Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Bandara Soekarno Hatta Gatot Sugeng Wibowo menjelaskan bahwa penindakan ini dilakukan berdasarkan Peraturan Badan Pengawasan Obat dan Makanan Nomor 28 tahun 2023 tentang perubahan atas Peraturan Badan Pengawasan Obat dan Makanan Nomor 27 Tahun 2022, yang mengatur pengawasan pemasukan obat dan makanan ke dalam wilayah Indonesia.

“Ini ada beberapa barang (makanan) yang dilakukan penindakan, jumlahnya kurang lebih satu ton. Ini (penindakan) dalam periode bulan Februari 2024 sebanyak 33 penindakan,” ungkap Gatot dalam konferensi pers pada Jumat (8/3/2024).

Menurut Gatot, dalam setiap penindakan yang dilakukan, pihaknya mendapati adanya kelebihan muatan yang dibawa oleh penumpang. Rata-rata para penumpang membawa barang bawaan sebanyak lebih dari 5 kilogram.

“Kenapa kita lakukan penindakan makanan ini? Karena sudah melanggar pembatasan dari BPOM Nomor 28 Tahun 2003, yang dibatasi untuk pembawaan atau membawa penumpang itu hanya 5 kilogram, selebihnya harus ada izin edar. Harus memiliki izin edar, kalau tidak memiliki, kita lakukan penindakan,” ucapnya.

Gatot menyebutkan bahwa makanan yang dibawa oleh para penumpang merupakan produk asal Thailand yang nantinya akan dijual di Indonesia dengan menggunakan jasa titip atau jastip. Makanan tersebut kemudian akan diedarkan dan dijual dengan harga yang cukup tinggi.

“Dijual di sini berlipat-lipat, bisa mencapai Rp. 150 ribu bahkan sampai Rp. 200 ribu, jadi memang untungnya luar biasa,” katanya.

Penindakan ini, kata Gatot, bertujuan untuk melindungi pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Indonesia dari serbuan makanan impor.

“Penindakan ini juga dilakukan untuk melindungi masyarakat Indonesia dari serbuan makanan dari luar negeri. Selain itu, pembatasan dan penindakan ini juga untuk melindungi UMKM di dalam negeri dari makanan-makanan import,” jelas Gatot.

Warga diharapkan terus mendukung upaya pemerintah dalam melindungi produk lokal dan memastikan kualitas serta keamanan produk konsumsi. (Iksan/Ivon)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *