Beredar Obat Kadaluarsa, Anggota DPRD Saiful Milah Sentil Dinkes Kota Tangerang

oleh -0 Dilihat

Fokuspembaca.com – Temuan obat penurun panas kadaluarsa di Kelurahan Pondok Pucung, Kecamatan Karang Tengah mendapat sorotan dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tangerang. 

Anggota Komisi II DPRD Kota Tangerang, Saiful Milah menilai temuan obat kadaluarsa itu mencerminkan buruknya pelayanan kesehatan pada masyarakat yang diberikan Pemerintah Kota Tangerang.

“Buruk , jelas itu , jadi catatan buruk untuk dinkes, khususnya pelayanan masyarakat, khususnya divisi yang membidangi kesehatan,” ujar anggota komisi II DPRD Kota Tangerang, Saiful Milah, Rabu, (10/8/2022).

Bahkan menurut Saiful, pemberian obat kadaluarsa itu bukti keteledoran Dinas Kesehatan kota Tangerang dan tak dapat ditoleransi. Sebab, efeknya dikhawatirkan membahayakan kesehatan.

“Sama aja meracunin masyarakat. Jelaslah (efeknya), jangankan balita, apalagi obat , bisa beracun (kalau kadaluarsa). Itu pelanggaran berat itu pemerintah, norak,” tegasnya.

Lanjut Saiful, seharusnya Pemkot Tangerang bisa lebih hati-hati. Seharusnya terdapat penyortiran obat. Paling tidak, kata dia, sebulan sebelum tanggal kadaluarsa, obat itu sudah harus ditarik.

“Demi kehati hatian. Harusnya satu bulan menjelang Kadaluarsa harus sudah ditarik. Beri masyarakat hal yang terbaik. Enggak boleh barang kadaluwarsa. Tidak ada toleransi untuk expired itu,” jelasnya.

Dia menuturkan, pihaknya pun akan segera memanggil Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang untuk mengklarifikasi temuan itu. 

“Jangan banding Blbandingkan, jangan membela diri deh pemerintah. Jangan ada toleransi, apalagi itu sudah dua tahun. Dan kita akan panggil Dinkes itu , nanti saya komunikasikan,” pungkasnya.

Diketahui, Warga Kampung Bulak Santri, Kelurahan Pondok Pucung, Kecamatan Karang Tengah, Kota Tangerang diresahkan dengan temuan obat penurun panas kadaluarsa. 

Obat penurun panas itu mereka dapatkan dari Posyandu bunga kenanga ketika melakukan imunisasi anaknya pada Selasa, (09/08/2022). Nampak obat itu diproduksi pada April 2018 dan kadaluarsa pada April 2020. Artinya obat itu telah kadaluarsa lebih dari 2 tahun.

Anak dari salah satu warga Widia Kurnia Rahayu menjadi korban dari obat kadaluarsa tersebut. Widia telah memberikan anaknya obat itu sebanyak dua kali dan berefek demam serta muntah -muntah. Dia baru menyadari obat itu kadaluarsa setelah mendapat informasi dari grup WhatsApp. (Ron)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.