TPA Rawa Kucing Belum Padam, 42 Warga Masih Mengungsi

oleh -2 Dilihat
Pengungsi kebakaran TPA Rawa Kucing masih bertahan di posko pengungsian di Kantor Kecamatan Neglasari, pada Minggu (29/10/2023). (fokuspembaca.com/Iksan)

Fokuspembaca.com, Kota Tangerang – Akibat kebakaran tempat pembuangan akhir (TPA) Rawa Kucing yang belum juga pada sampai hari ke-10, ada sebanyak 42 warga sekitar di Jalan Iskandar Muda, Neglasari, Kota Tangerang yang mengungsi sampai hari ini.

Berdasarkan data Pemerintah Kota Tangerang, warga tersebut mengungsi di dua lokasi yakni sebanyak 13 orang di Kantor Kecamatan Neglasari, dan 29 orang lainnya tinggal sementara di GOR Neglasari.

Warga yang masih memilih bertahan di tempat pengungsian sementara itu memiliki berbagai faktor alasan, selain keamanan diri mereka.

Salah satunya disampaikan oleh Een. Dirinya masih bertahan di posko pengungsian di Kantor Kecamatan Neglasari lantaran tempat tinggalnya ikut hangus terbakar api yang merambat dari TPA Rawa Kucing.

“Iya masih di sini (posko pengungsian Kantor Kecamatan Neglasari). Rumah (kami) udah enggak ada (hangus terbakar), mau tinggal pulang ke mana saya,” ujar Een di lokasi pengungsian, Minggu (29/10/2023).

Rumah Een dan beberapa warga lainnya di sekitar TPA Rawa Kucing ikut terbakar, dan bahkan sekarang rata dengan tanah.

Permasalahan yang mereka hadapi tidak hanya soal rumahnya yang hangus terbakar. Mereka pun diberitahukan bahwa posko pengungsian di Kantor Kecamatan Neglasari itu hanya diperbolehkan sampai hari Kamis (2/11/2023) mendatang.

Pemerintah Kota Tangerang telah menyiapkan tempat bagi warga terdampak kebakaran TPA Rawa Kucing itu di sebuah rusun yang berada di Jatiuwung, Kota Tangerang.

“Kalau ke luar dari sini (posko Kantor Kecamatan Neglasari) cuma sampai tanggal 2 bulan besok (November), dari sini baru pindah ke rusun infornya seperti itu,” jelasnya.

Namun kata Een, rencana untuk memindahkan mereka ke rusun di Jatiuwung itu akan menimbulkan perkara baru lantaran sumber mata pencaharian mereka selama ini ada di lingkungan TPA Rawa Kucing tersebut.

“Karena kejauhan usaha juga kan di sini warung, jualan, rongsokan juga di sini (sekitar TPA Rawa Kucing). Kalau di sana (rusun Jatiuwung) kan jauh,” kata dia.

Terlebih lagi, warga yang nantinya tinggal di rusun Jatiuwung diharuskan membayar biaya bulanan setelah tiga bulan pertama.

“Awal 3 bulan pertama gratis, sisanya bayar. Kemarin saya dengar begitu, per bulan Rp 90 ribu. Cuma kamar mandi, dan (dapur) masak juga jadi satu (dengan penghuni lain), masa rame-rame,” ungkap Een.

Een bercerita bahwa atas insiden ini, dirinya mengalami kerugian mencapai puluhan juta. Sebab, barang-barang miliknya yang ada di dalam rumah telah ludes terbakar tanpa sisa.

Ia berharap, jika pemerintah maupun donatur lainnya bisa membantu untuk meringankan beban para pengungsi yang rumahnya telah hancur ini.

“Rugi puluhan juta, karena kan perabotan hancur, semua modal usaha habis, modal limbah juga abis. Mesin cuci, kulkas, segalam macam habis gak bisa diselamatkan,

kata dia.

“Entah itu dari pemerintah, atau donatur semoga ada yang membuka hatinya buat membantu walaupun istilahnya enggak sepenuhanya. Entah itu bantuan dari mana, itu mungkin jalannya Allah kita dibantu,” tambahnya. (Iksan/Ivon)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.